Salah satu aspek yang membangun kecerdasan seseorang adalah lingungan. Lingkungan yang positif, antusias, ceria mendorong kecerdasan secara umum. Apalagi kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual, maka pembentuk utamanya adalah lingkungan.
A. Peniru Ulung
Anak adalah peniru
yang ulung. Manusia akan mengucapkan apa
yang dia dengar, dan melakukan apa
yang dia lihat. Anak akan melakukan bukan apa
yang kita ajarkan, tetapi apa
yang kita lakukan.
Saya berikan ilustrasi ini: Ada
satu kisah tentang seorang pelaut tua. Pelaut ini gemar merokok, dan ketika burung beo kesa
yangannya menderita batuk menahun, ia memanggil dokter hewan untuk memeriksa, karena dia sa
yang benar dengan beo tersebut. Beberapa kali datang bahkan ganti dokter hewan, sang dokter tidak bisa juga menyembuhkan sakit burung beo tersebut. Sang pelaut akhirnya berhenti merokok, kuatir asap rokoknyalah
yang menyebabkan beo-nya batuk-batuk. Si pelaut pun hidup lebih sehat dan sembuh dari batuknya, dan ternyata beo-nya pun berhenti batuknya.
Sang Beo berhenti batuk bukan karena dia sembuh dari sakit batuk, selama inipun dia sehat-sehat saja, sehingga tidak ada dokter hewan
yang bisa menemukan dan menyembuhkan batuk sang beo, karena sang beo bukan sakit batuk, tetapi selama ini dia ‘menirukan’ batuk tuannya. (ilustrasi lain: Anak kucing sakit, Anak dibawa ke luar negeri)
Betapa sering kejadian serupa ini terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Tidak jarang para orang tua kecewa dan putus asa melihat anak-anak mereka bertambah nakal. Tanpa disadari, acapkali anak-anak meniru gaya hidup orang tua. Karena itu cara mendidik dan menangani anak
yang paling praktis adalah dengan memberinya TELADAN. Lingkungan positif anak adalah lingkungan
yang memberikan TELADAN POSITIF.
B. Lingkungan Positif
Lingkungan positif, membentuk pikiran positif, pikiran positif, menghasilkan perilaku positif, reaktif spontan positif dan hasil serta tindakan positif pula. (Ilustrasi 2 ekor sapi, ilustrasi rumah cermin)
1. Lingkungan Positif Anak adalah:
- Lingkungan yang memberikan TELADAN
- KASIH SAYANG; Penerimaan, Perhatian, Pujian, Pelukan, Sentuhan
- KESEHATIAN, kerukunan, damai sejahtera
- DORONGAN yang Positif, KESEMPATAN dan Rewards yang wajar.
2. Kasus : Sukses Unlimited
Success Unlimited, Juli 1976, menceritakan kisah ini. Di Kibbutz di Israel, evaluasi mengungkapkan bahwa IQ rata-rata anak Yahudi Timur 85 dan anak-anak Yahudi Eropa 105. Ini “membuktikan” bahwa anak Yahudi Eropa “lebih cerdas” daripada anak Yahudi Timur. Benarkah demikian? Setelah 4 tahun di Kibbutz, dengan tempat lingkungan
yang positif dan motivasi
yang bagus sekali, pengabdian kepada belajar dan pertumbuhan hebat, kemudian IQ rata-rata dari kedua kelompok anak Yahudi tersebut menjadi seimbang yaitu 105. Apakah
yang meningkatkan IQ dari anak-anak Yahudi Timur? Lingkungan
yang positif tentunya.
Di antara lingkungan seseorang, maka orang-orang
yang paling berpengaruh terhadap citra diri orang tadi yaitu orang-orang
yang dihormatinya. Bagaimana sikap mereka, harapan mereka, serta keyakinan mereka terhadap dia sangatlah mempengaruhi citra diri-nya dan pada akhirnya menentukan keberhasilannya. Orang tua, guru, tokoh agama, serta tokoh panutan adalah termasuk orang-orang ini.
3. Nell Mohney
Dalam bukunya
Beliefs Can Influence Attitudes, dengan tegas melukiskan kebenaran ini. Mohney menceritakan sebuah eksperimen
yang dilangsungkan dikawasan Teluk San Francisco. Kepala sekolah memanggil tiga profesor bersama-sama dan berkata,
“Karena Anda sekalian adalah tiga pengajar yang paling baik dalam sistem kita dan mempunyai keahlian yang paling besar, kami akan memberi Anda 90 orang siswa ber-IQ tinggi. Kami akan membiarkan Anda memajukan para siswa ini tahun depan sesuai dengan langkah mereka sendiri dan melihat berapa banyak yang bisa mereka pelajari.”
Setiap orang bersukacita — sekolah, para profesor maupun para siswa.
Dalam waktu
satu tahun berikutnya profesor dan siswa menikmati kegiatan mengajar-belajar sepenuhnya. Para profesor dengan antusias mengajar siswa
yang paling cerdas. Para siswa mengikuti pelajaran dengan sunguh-sungguh, karena memetik keuntungan dari perhatian dan instruksi
yang cermat dari pengajar
yang berkeahlian tinggi. Pada akhir eksperimen, para siswa mencapai prestasi dari 20 sampai 30 persen melebihi siswa-siswa lainnya di seluruh sekolah.
Kepala sekolah memanggil para pengajar dan mengatakan kepada mereka:
“Saya harus membuat pengakuan. Anda sekalian tidak mengajar 90 orang siswa yang kecerdasannya paling menonjol. Mereka siswa-siswa yang biasa-biasa saja. Kami mengambil 90 siswa secara acak dari sistem kita dan memberikannya kepada Anda.” Kemudian para pengajar berkata:
“Ini berarti bahwa kami pengajar yang luar biasa.” Kepala sekolah meneruskan,
“Saya punya pengakuan satu lagi. Anda sekalian bukan pengajar yang paling cerdas. Nama-nama Anda adalah tiga nama pertama yang dicabut dari dalam topi.” Para pengajar bertanya,
“Apa yang membuat perbedaan? Mengapa ke-90 siswa ini memperlihatkan unjuk kerja dengan tingkat yang luar biasa sepanjang tahun?”
Perbedaannya, tentu saja, adalah harapan para pengajar. Para pengajar menganggap siswa-siswa tersebut pandai dan berharap mereka pandai, jadi para pengajar pun memperlakukan mereka sebagai siswa-siswa
yang pandai. Hasilnya: mereka pun menjadi pandai.
C. Lingkungan anak
- Keluarga & lingkungan tempat tinggal
- Orang Tua
- Pengasuh; Suster, Kakek, Nenek, Tante, Paman
- Kakak/ adik
- Pembantu, anak pembantu
- Tetangga
- Sekolah
- Guru
- Teman Sekolah
- Media
- TV, VCD
- Play Station, Internet Game
Semua lingkungan tersebut, berinteraksi dengan anak, dan
membangun kepribadiannya.
Yang perlu orang tua perhatikan, apakah hal tersebut memberi kontribusi positif atau negatif, bagi perkembangan emosi, kepribadian dan karakter anak? Setiap lingkungan bisa saja memberikan kontribusi positif dan negatif, peran orang tua adalah mengarahkan supaya setiap
aspek memberikan kontribusi positif.
Untuk memberikan kontribusi positif, dalam mendidik anak, memberikan didikan / hukuman / mendisiplin anak, maka team pendidik, semua
yang terlibat dalam mendidik harus memiliki sikap
yang sama, harus sehati, termasuk ketika sedang menghukum. Suami dan istri, orang tua dan mertua, orang tua dan kakek neneknya bahkan orang tua dengan suster atau pembantunya harus sehati.
Jika kesamaan konsep, cara mendidik, cara menghukum, cara dan jenis pemberian imbalan (rewards) berbeda antara pihak pihak yang terlibat, maka perdebatkan, diskusikan, pertengkarkan hal itu tidak dihadapan anak.
Kasus 1: Ayah dan Ibu harus ‘sehati’
Anak akan rusak jika ayahnya sedang mendisiplin, lalu anak nangis dan lari ke mamanya, sambil mengatakan atau menangis:
“Mama papa jahat…” lalu mamanya membela dan mengatakan kepada si anak:
“Memang… papamu jahat… sini sama mama saja”.
Anak akan rusak jika sementara
salah satu orang tua sedang mendisiplin lalu pasangannya membela anaknya saat itu juga dan memarahi pasangannya didepan anaknya. Saat anak menangis karena sedang didisiplin, jika mereka lari ke kita, kita cukup memeluknya saja dan bukan membelanya. Katakan :
“ Papa (atau mama) melakukan itu karena dia sayang sama kamu, kalau kamu baik, pasti papa (atau mama) tidak hukum kamu”. Berikan simpati, tetapi bukan pembelaan dengan menyalahkan
yang sedang mendidik.
Jika anakmu dipukul pasanganmu, misal suamimu, engkau bisa memberikan simpati dengan melihat pantat /tempat dia dipukul, dan katakan
“woow merah tuh”, (biasanya anak akan menangis dibuat semakin kenceng) lalu gosok dengan ‘body lotion’ atau minyak, sambil mengatakan misalnya
; “Papa pukul kamu, karena papa mau kamu jadi anak yang baik, anak yang tahu sopan santun… Papa perhatian sama kamu.. tidak seperti anak sebelah tuh… ngapain saja dibiarkan… memang enak.. tapi itu tidak baik”
Kalau engkau berbeda prinsip, berbeda pendapat dan cara dalam mendidik anak dengan suami atau istrimu, maka diskusikan di kamar, atau di luar rumah (di mobil dalam perjalanan) tidak di hadapan anak-anak. Perdebatkan dan bicarakan tetapi tidak dihadapan anak-anak. Bahkan jangan bertengkar karena
yang satu membela anak dihadapan anak-anak, dan sering terjadi sementara anak-anak sudah rukun dan bermain kembali, orang tuanya justru masih tidak saling bicara
Kasus 2: Pengasuh, Kakek dan Nenek harus ‘sehati’
Ma
salah anak, mertua, opa dan oma ini biasanya terjadi jika pasangan tinggal serumah atau
satu kompleks dengan orang tua atau mertuanya. Saya menjumpai beberapa anak ‘berma
salah’ karena faktor ketidak sehatian orang tua dengan opa oma si anak. Anak akan rusak jika ibunya memberikan aturan mengatakan;
“Jangan makan es krim, nanti kamu batuk”, lalu si anak datang ke omanya, dan omanya mengatakan;
“Sini oma belikan es krim, mama-mu itu (menantukuku itu maksudnya dalam hati) pelit !!, sini sama oma saja !”
Sering orang tua merasa bahwa dia dulu tidak bisa mengasihi anak-anaknya karena faktor ekonomi
yang kurang dan sekarang dia mau mengasihi cucu-cucunya, jangan sampai dia sedih dan tidak bahagia seperti anak-anaknya dulu. Bisa juga karena faktor ingin ‘menjadi berarti’ bagi sang cucu di masa tuanya, dimana dia mungkin sudah tidak terlalu ‘berarti’ bagi anak dan tidak bisa lagi menasehati atau mempengaruhi anak-anaknya, karena mereka sudah pandai dan berhasil, maka untuk menjadi ‘berarti’ keberadaannya, opa-oma mengasihi cucu-cucunya.
Ini baik-baik saja, sepanjang tidak konflik dengan orang tua si anak, sehingga anak akan menjadi memberontak orang tuanya karena pembelaan opa-oma. Konflik bisa meluas jika orang tua si anak merasa diintervensi dan menjadi bertengkar dengan mertua atau orang tuanya (opa oma si anak). Bicarakan secara bijaksana baik langsung dengan mertua/ orang tua atau melalui pasanganmu demi kemajuan si anak. Opa oma juga harus belajar untuk menghormati otoritas orang tua terhadap anak dan tidak mencampuri terlalu jauh.
Kasus 3: Orang Tua dan Guru Sekolah, harus ‘sehati’
Sama juga di sekolah, orang tua dan guru harus sehati dihadapan anak-anak. Kalau ada perbedaan diskusikan dengan guru atau laporkan tingkah laku si guru ke Kepala Sekolah, tetapi jangan ceritakan apa
yang kau lakukan kepada anakmu, jangan menjadi ‘jagoan’ dengan ‘melabrak’ gurunya, jangan jadi ‘pahlawan’ untuk urusan
yang semacam ini, jadilah pahlawan bagi anak-anakmu dalam bidang lain. Jika ini
yang engkau lakukan, maka anak-anakmu tidak akan menghormati gurunya, dia tidak akan belajar menghormati otoritas diatasnya, akan memberontak disekolah dan akhirnya pelajaran di sekolahnya tidak bisa masuk ke otaknya.
Saya ceritakan kisah nyata waktu saya SMA. Kami memiliki guru kimia
yang tidak menarik dan menyebalkan, waktu kami kelas 1, maka rata-rata nilai kimia di sekolah 6 atau 7 saja. Kimia bukan pelajaran
yang menarik. Waktu kelas 2, guru kimia diganti dengan guru baru, muda, cakep dan mengajar dengan cara
yang ‘luar biasa’. Dia datang membawa kertas putih kosong dan menantang para murid siapa
yang bisa membaca ‘surat’ tersebut akan diberi hadiah. Semua murid tidak ada
yang bisa karena itu bukan ‘surat’ hanya sebuah ‘kertas kosong’.
Setelah murid-murid menyerah, guru mengambil ‘surat’ itu, menyemprotnya dengan cairan bening dan munculah tulisan warna merah muda:
“I love You, ketemu jam 4 di toko buku” Sang guru kembali menantang siapa
yang mau membuat surat cinta
yang pasti lolos sensor oleh calon mertua? Ketika murid-murid begitu tertarik, maka sang guru mulai menceritakan cairan apa
yang digunakan untuk menulis dan cairan apa
yang digunakan untuk menyemprot, apa isi masing-masing cairan tersebut, bagaimana reaksi kimia dan warna
yang menyertainya.
Setiap minggu ada saja ‘demonstrasi’ semacam tukang sulap
yang diperagakan si guru kimia ini. Begitu menariknya sehingga jika 10 menit guru tidak datang, kami beramai-ramai menjemput si guru di ruang guru. Lain ceritanya ketika guru menyebalkan, jika dia tidak datang, kami menutup pintu kelas, seolah-olah di dalam ada pelajaran. Tahun itu rata-rata nilai kimia di kelas 8-9 dan tidak sedikit
yang mendapat nilai 10. Tiba-tiba kimia menjadi pelajaran
yang menarik. Ketika murid hormat dan senang dengan gurunya, pelajarannya menjadi mudah diterima.
Karena itu orang tua, janganlah engkau mengucapkan kata-kata negatif tentang guru anakmu atau sekolah anakmu, sehingga anakmu tidak hormat lagi dengan guru dan sekolahnya, dan kita juga
yang akan rugi sendiri. (Jika sudah terlalu parah memang lebih baik pindahkan saja ke sekolah
yang lain) Jika engkau tidak bermaksud memindahkan anakmu maka jangan katakan:
“Wah gurumu itu tidak mengerti ilmu mendidik anak, kampungan!” “Wah sekolahmu itu tidak bonafide!” dll
Jika anak sudah tidak hormat dengan gurunya atau tidak suka dengan sekolahnya, pelajaran menjadi sulit diterima, karena sudah tidak ‘
respect’. Sama dengan saudara jika kecewa atau tidak hormat dengan seorang ‘pendeta’, maka kotbahnya tidak masuk di hati kita bukan? Bisa saja kita mendengarnya namun kita berkata dalam hati kita :
“Ah teori”
Kasus 4: Orang Tua dan Suster
Suatu ketika saya pulang ke rumah, dan anak saya mengadu, bahwa suster marahi dia begini dan begitu. Hati saya panas, saya pikir, ini suster kurang ajar juga, dia khan anak saya, apa haknya dia marah-marah ke anak saya. Dia suster ya cukup jadi suster saja, gantikan pakaian, mandikan anak, kasih makan, ajak main, beresin mainan, bersihkan kamar dan jangan ‘lancang’ melampaui wewenang ikut-ikutan marah ke anak.
Saat itu saya bergumul dalam hati dan pikiran saya, dan akhirnya saya peluk anak saya, saya berikan empati namun sambil berkata kepada anak saya:
“Kamu pasti ada salahnya?” “Tidak mungkin suster marah-marah kalau kamu tidak salah” Anak saya mulai berkata:
“Ya tetapi khan saya ‘cuma’ begini begini dsb”. “Itu bukan cuma, itu salah, sana minta maaf sama suster” Bahkan sedikit saya paksa anak saya, minta maaf dengan suster.
Dengan prinsip semacam itu, waktu terus berjalan, maka kami orang tua
yang ‘menikmati’ hasilnya, karena anak-anak menjadi hormat kepada suster (dan pembantu) sehingga kalau kami orang tua pergi, maka di rumah ada
yang ‘ditakuti’ atau ‘dituruti’. Jika orang tua memandang rendah pembantu atau suster sebagai ‘babu’
yang harkat dan martabatnya dibawah kita, dan tidak boleh ‘marahi’ anak sekalipun anak
salah, maka anak tidak akan menghormatinya.
Saya menjumpai anak-anak
yang ‘menyiksa’ pembantu, dengan mencubiti atau memukul dan tidak menurut sama sekali. Susternya kerepotan dan tidak tahan, pembantu atau susternya ‘silih berganti’ setiap 3 maksimal 6 bulan keluar, orang tua
yang repot juga. Ini banyak terjadi karena orang tua juga tidak menghargai pembantu sebagai ‘manusia’.
Anak akan bertumbuh dengan tidak menghargai orang
yang lebih tua, dengan alasan status sosial dan ekonomi. Ini memang wajar dalam masyarakat namun menurut saya tidak baik. Seorang pemimpin
yang berhasil adalah
yang BERAKHLAK dan akhlak
yang paling utama adalah berbelas kasihan,
yang memiliki moral atau etika ‘menghormati orang
yang lebih tua’ sekalipun dia seorang pembantu atau suster.
Kasus 5: Anak bergaul dengan anak pembantu
- Bisa memberikan kontribusi negatif, anak kita menjadi jorok, makan nggak cuci tangan, naik tempat tidur nggak cuci kaki, makan diatas tempat tidur, karena di rumah pembantu, hanya rumah petak, dimana semua aktivitas ya hanya di ruang tersebut
- Kontribusi positif, menumbuhkan empati, simpati, belas kasihan. Anak bergaul bukan karena status ekonomi, tetapi karena pribadi, karena tidak semua anak pembantu jelek, kadang ada orang miskin, justru dengan ketulusan, hemat, kejujuran lebih. Anak mendapat penyaluran untuk berbuat baik, merasa ‘melimpah’ karena memiliki teman ‘dibawah’.
Dengan dorongan dan arahan
yang positif, anak bergaul dengan anak supir atau anak pembantu, sesungguhnya akan meningkatkan
‘inter-personal intelligence’ atau
kecerdasan emosinya.
‘Inter-Personal Intelligence’ adalah kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain atau kemampuan seseorang untuk bergaul/ sosialisasi. Kemampuan seseorang untuk mengerti orang lain (empati) dan memberikan respons (simpati) kepada orang lain.
1. Sosialisasi
Jika saya hadir dalam sebuah pertemuan ‘reuni’ baik itu reuni SMA atau reuni teman kuliah, maka saya menjumpai, mereka
yang sekarang berhasi di masyarakat, secara mencolok, bukan mereka
yang dulu secara akademik bagus, tetapi mereka
yang pandai bergaul, khususnya jika itu bidang ekonomi, politik dan sosial kemasyarakatan.
Untuk
membangun jaringan usaha diperlukan pergaulan
yang luas dan banyak teman. Untuk mendapatkan kredit bank, bukan butuh NEM
yang bagus dan fotocopy transcript, tetapi kemampuan meloby, bergaul, jaringan dan teman.
Saya menjumpai mereka mereka
yang dulu aktif berorganisasi, baik sebagai ketua himpunan mahasiswa, ketua klub olah raga atau kegiatan kerohanian, mereka itulah
yang berhasil ketika bekerja, karena
kecerdasan mereka dalam bergaul (
inter personal intelligence), bertumbuh dengan hal itu.
Ironis jika banyak orang tua mencekoki anak-anak sibuk dengan less dan melarang anaknya bergaul atau membatasi pergaulan anaknya dalam kelompok
yang sangat ekskluif.
Bisnis dalam kelompok ekskluif memang bisa maju dan besar tetapi bisnis dalam kelompok
yang lebih luas secara massal, pastilah memiliki pasar
yang lebih besar lagi.
Karena itu melalui makalah ini saya mendorong saudara, perluas pergaulan anak-anakmu. Pepatah berkata, ‘Musuh
satu orang terlalu banyak dan teman seribu kurang!’ Saya mendorong para orang tua, dorong anak-anakmu bergaul! Dekade kedepan, saya yakin akan sangat mudah menemukan orang pandai, karena sekolah semakin baik, fasilitas semakin lengkap, sekolah unggulan, sekolah-plus, sekolah international berjamur. Akan sangat mudah menemukan anak pandai, tetapi apakah kita akan menemukan anak
yang pandai bergaul secara luas?
Anak
yang pandai bersosialisasi, dialah
yang akan berhasil dikemudian hari ! Perluas pergaulan anakmu, dengan bergaul lintas suku, lintas ekonomi, lintas agama, lintas kelompok, biarkan tumbuh nilai-nilai universal, kebersamaan dan nasionalisme
yang kuat.
2. Empati dan simpati
Empati, adalah kemampuan seseorang untuk memahami orang lain, sedangkan simpati adalah bagaimana seseorang bisa memberikan respons kepada orang lain secara baik.
Untuk mengembangkan ‘inter personal intelligence’
yang terdiri dari kemampuan ‘sosialisasi’
yang dibangun oleh ‘simpati’ dan ‘empati’, maka anak-anak harus lebih banyak bermain, dan bermain dengan TEMAN, bukan dengan barang, bukan komputer, bukan nonton TV dan main play staition,
yang belakangan ini menyita ribuan jam waktu anak-anak.
Ada baiknya hingga anak usia 6 th dirumah tidak usah ada ‘play station’ (itulah yang saya lakukan di keluarga saya sendiri), sehingga dalam usia dini ketika pola-pola dasar emosinya sedang dibentuk, anak lebih banyak bermain dengan TEMAN, sesama ANAK.
Kasus 6: Media
Media, telah menjadi lingkungan
yang amat sangat berpengaruh pada anak. 24 jam sehari, digunakan untuk tidur 6-8 jam, sekolah 6-8 jam dalam porsi
yang hampir sama dan 4-5 jam ia ada di depan TV, VCD, play station atau internet game. Anak zaman sekarang kurang bermain, kurang olah raga, obesitas karena kurang gerak dan egois karena kurang bergaul, stress kebanyakan less dan melampiaskannya dengan maniak game.
D. Dorongan yang Positif
Hellen Keller lahir pada tanggal 27 Juni 1880 di Tasukambia di Alabama, AS. Sewaktu ia berusia 19 bulan dia terjatuh di kamar mandi. Akibatnya dia buta dan tuli seumur hidupnya. Orang tuanya ingin memperlakukan Hellen seperti anak-anak normal lainnya. Akhirnya, saat Hellen berumur 7 tahun, ayahnya menyerahkan pendidikan Hellen kepada seorang guru
yang datang ke rumahnya, guru itu bernama
Annie Sullivan. Sullivan sangat terbeban untuk menolong orang
yang cacat, dia pun hanya bisa melihat samar-samar saja karena sakit
yang dideritanya pada masa kanak-kanak.
Mula-mula Sullivan mengajarkan Hellen untuk makan memakai sendok dengan cara
yang rapih. Kemudian Hellen diajarkan nama tiap-tiap benda. Sullivan menuliskan
b.o.n.e.k.a dengan jarinya di telapak tangan Hellen, sementara itu ia mengajak Hellen meraba boneka
yang sedang didekapnya. Berulang-ulang hal itu dilakukan. Kemudian Hellen pun menuliskan
b.o.n.e.k.a di telapak tangan Ibu Sullivan.
Pada suatu hari
yang cerah, mereka pergi ke pompa air di halaman. Di sana ibu Sullivan memberinya sebuah gelas, lalu ditulisnya huruf
g.e.l.a.s di telapak tangannya. Setelah itu dipompanya air dan tangan Hellen diletakkannya di bawah pancuran pompa. Air melimpah menimpa tangan Hellen. Kali ini Ibu Sullivan menuliskan
a.i.r. Kini, Hellen sadar bahwa wadah
yang digenggamnya itu adalah gelas, dan
yang dingin itu adalah air. Setelah hafal banyak kata-kata, lalu Hellen mulai belajar mengenal huruf braille. Hellen mulai belajar tentang banyak hal
yang ada di dunia
yang tadinya belum diketahuinya. Ia sekarang tahu tentang mimpi, cita-cita, dan kegembiraan.
Ketika Hellen berusia 10 tahun, ia masuk ke sekolah Horseman. Letaknya jauh dari rumah. Di sana ia akan belajar untuk berlatih berbicara dengan bibir. Menjelang keberangkatannya, ia menuliskan sesuatu di telapak tangan Hellen,
“Jaga dirimu baik-baik. Maju terus ya, kami mencintaimu.” Hellen pun mengambil tangan ibunya, dan menuliskan,
“Saya pergi Bu. Doakan Hellen ya!” Ibunya tak dapat menahan air matanya mengantar kepergian Hellen.
Di sekolah Horseman, mula-mula ia diajar metode latihan oleh Ibu Sullivan. Dengan metode itu, Ibu Sullivan memasukkan tangan Hellen ke dalam mulutnya, sehingga pada saat bicara, Hellen merasakan gerakan bibir dan lidah. Hellen lalu memasukkan tangannya ke dalam mulutnya sendiri, dan ia berusaha untuk berucap.
“Betapa inginnya ia bisa berbicara,” kata Ibu Sullivan terharu melihat kesungguhan Hellen. Hellen terus berlatih walau dengan susah payah. Akhirnya sedikit demi sedikit ia bisa berbicara.
Liburan musim panas telah tiba. Hellen dan Ibu Sullivan kembali pulang ke rumah setelah lama pergi. Hellen sudah rindu sekali dengan keluarganya dan suasana di rumah. Ayah, ibu serta adiknya menjemput Hellen dengan perasaan harap-harap cemas. Begitu sampai di depan rumah. Hellen langsung lari mendapatkan ibunya.
“Ayah! Ibu! Saya pulang,” teriaknya sambil datang berlari. Dari mata ibunya, mengalirlah air mata kebahagiaan.
“Hellen, panggil ibu sekali lagi.” “Ibu, ibu!”, demikian Hellen memanggil ibunya lagi. Mereka sangat terharu bertemu dengan Hellen.
Dalam mempelajari sesuatu, Hellen harus berusaha berkali-kali dibandingkan dengan orang biasa, tapi Hellen bertekad terus. Setelah lulus sekolah dia meneruskan ke Perguruan Tinggi di Radcliffe. Ibu Sullivan menemani Hellen selama kuliah dengan cara “mengeja” apa
yang dikuliahkan pada tangan Hellen. Singkat cerita pada tahun 1904, setelah mempelajari bahasa Jerman, Yunani, Latin dan Perancis, Hellen Keller menjadi orang buta dan tuli
yang pertama
yang menguasai 5 bahasa dan mendapatkan gelar sarjana . Dan gelar sarjana ini dia peroleh dengan gelar ‘cum laude’.
Dia menulis 14 buku, memberikan kuliah di Perguruan Tinggi, mengunjungi Gedung Putih, dan berkeliling dunia mengunjungi 20 negara untuk orang-orang
yang cacat tubuh seperti buta, tuli, dan bisu serta memotivasi mereka hidup.
Suatu waktu,
Ratu Inggris Victoria, ketika menyematkan tanda penghargaan Inggris
yang tertinggi bagi orang asing, bertanya kepada Helen Keller,
“Bagaimana Anda mendapatkan pencapaian yang menonjol dalam kehidupan? Bagaimana Anda menjelaskan kenyataan bahwa walaupun Anda tunanetra dan tunarungu, Anda bisa mencapai begitu banyak?” Tanpa keraguan barang sesaat, Helen Keller mengatakan ;
“Kalau tidak ada Annie Sullivan, nama Helen Keller tetap tidak akan terkenal.”
Hellen amat berterima kasih kepada Ibu Sullivan, dan ia pun bertekad akan bekerja mengabdikan seluruh hidupnya untuk orang-orang cacat seperti
yang dilakukan oleh gurunya — Ibu Annie Sullivan. Helen Keller mempengaruhi berjuta-juta orang setelah kehidupan disentuh oleh Annie Sullivan.
Banyak orang menceritakan kisah di atas, dan memilih Hellen Keller sebagai lakon utama cerita tersebut. Tapi dalam buku ini saya menceritakan kisah di atas dan menjadi Annie Sullivan sebagai lakon utamanya, yaitu orang
yang memberikan dorongan
yang positif kepada orang lain. Bagaimana Sullivan bisa memberikan dorongan dan merubah hidup seseorang, meningkatkan
kecerdasan dalam berbagai
aspek mulai ‘
kecerdasan berbahasa’ dan terutama ‘self- image’ /
kecerdasan emosi seorang cacat?
Kuncinya menurut Sullivan adalah;
memberikan ‘rewards’ atau ‘imbalan’ atau pujian untuk sebuah kemajuan kecil saja yang positif. Jangan menunggu sebuah perubahan besar dan baru memberikan pujian.
Dorongan dan pujian atau ‘rewards’ itu merupakan terapi
yang luar biasa bagi seseorang, untuk melakukan sesuatu dengan senang, dan kalau seseorang melakukan sesuatu dengan senang, maka sebuah jaringan baru di otaknya bisa terbentuk, sebuah fungsi dibangun dan sebuah
aspek kecerdasan dimunculkan.
Saya berikan contoh ketiga anak saya sendiri, mereka bertiga pandai main piano, padahal saya dan istri tidak berbakat bermain musik, kecuali bermain gitar itupun sangat basik, ala kadarnya dan sejak SMA sampai hari ini tidak ada kemajuan. Namun kami memberi semangat, memotivasi dan memberikan less piano untuk ketiga anak kami, mereka hampir menyerah tapi kami mendorong dan memberikan impian, waktu berjalan dan terasa sangat lambat kemajuannya, tahun demi tahun, tetapi karena mereka kami motivasi, sehingga akhirnya bisa menyenangi, bisa menikmati, sekarang mereka bertiga menjadi ‘pianis’. Saya berjumpa dengan banyak orang tua
yang memiliki kasus serupa. Talenta dan bakat bukan hanya ditemukan dan dikembangkan, tetapi bisa diciptakan.
1. Fungsi dan Tujuan Hadiah / ‘Reward’
Hadiah /
‘rewards’ memberikan penerimaan, merupakan apresiasi atau penghargaan, memotivasi orang melakukan hal
yang sama sekali lagi, serta
membangun hubungan pribadi. Hadiah membalut hati
yang terluka karena hukuman dan memecahkan kekakuan karena aturan-aturan
yang dibuat. Hadiah kita berikan ketika anak melakukan aturan/ ajaran kita.
Jika mereka tidak melakukan kita menghukumnya, sebaliknya jika mereka melakukan kita tidak boleh menyepelekan begitu saja. Hadiah merupakan bentuk perhatian dan perwujudan kasih
yang nyata
yang akan dirasakan oleh anak kita.
2. Bentuk-bentuk Hadiah / Rewards
a. Pujian
Hadiah
yang paling murah, sederhana dan efisien adalah ‘pujian’. Pujian harus diberikan secara wajar, bukan berlebih-lebihan. Pujian bukan bujuk rayu atau rayuan gombal.Katakan kepada anak
‘terima kasih’, ‘waah bagus sekali’, ‘pintar’, ‘nah begitu bagus’ ‘selamat belajar’ ‘ semoga sukses’ dan ucapan-ucapan dorongan lainnya.
Jika kita berbuat sesuatu atau melayani baik di gereja, di masyarakat atau kantor dan orang berkata
‘terima kasih’ kita senang bukan? Jika saudara memakai baju dan orang berkata:
“Wah kamu cantik, bajumu bagus” kita senang bukan? Pujian memberikan penerimaan.
Jika anak mengompol atau bangun siang, kita menegor, jika dia bangun pagi atau tidak mengompol kita berkata apa? Saudara bilang
“Tumben” Ini tidak boleh, saudara harus memujinya. Sering mulut kita terlalu cepat marah, menegor dan menghukum tetapi lamban memuji. Hukuman tidak akan menimbulkan kepahtian dan sakit hati, asalkan bagian ini (memuji) kita melakukannya juga.
b. Uang
Uang adalah alat motivator
yang luar biasa, orang akan melakukan apa saja untuk uang, baik anak, orang dewasa maupun orang tua. Uang kita bisa gunakan sebagai alat motivator, atau sebagai bentuk hadiah.
c. Barang
Suatu ketika anak saya kehilangan pensil dan mencarinya kemana mana dan menangis dan menuntut bahwa pensil tersebut harus ditemukan. Saya memberikan pensil
yang lain, karena memang banyak cadangan pensil di rumah kami, tetapi anak tidak mau. Saya bertanya-tanya kenapa harus pensil
yang itu dan kenapa pensil
yang itu begitu berharga. Akhirnya saya tahu, itu pensil hadiah dari gurunya, hadiah sekolah minggu hadiah
yang didapat karena rajin selama setahun sekolah minggu.
Hadiah itu begitu berarti bagi anak, karena itulah pretasinya, karena dia merasa dihargai dengan pensil itu dan pensil itu juga menjadi berharga baginya. Jika kita selalu memberikan apa
yang diminta oleh anak, anak sering tidak merawat mainannya dan barang-barangnya. Tetapi jika kita memberikannya sebagai ‘hadiah’ atas apa
yang dia lakukan, maka barang itu menjadi lebih berarti baginya, bahwa dia berbuat sesuatu untuk mendapatkannya. Berikan reward kepada anak dengan barang, baik
yang dipakai, mainan atau
yang dipajang, piala dan sebagainya.
d. Janji
Hadiah juga bisa berupa janji. Kita bisa memotivasi anak dengan janji, kita bisa katakan; “
Kalau kalian rukun, tidak nakal, nanti Sabtu kita ke Play Ground di Mall Taman Anggrek” “
Kalau kamu juara, nanti papa belikan sepeda baru” Semakin besar hadiah
yang kita janjikan, kita kaitkan dengan permintaan atau prestasi
yang besar juga.
Janji ini bisa juga kita kaitkan dengan permintaan kita terhadap si anak. Jika anak minta sesuatu, kita menjanjikannya dengan juga mengajukan permintaan kepadanya. Janjikan nanti akhir pekan ke Plaza, ke tempat hiburan anak, ke pantai, atau janjikan liburan akhir tahun. Janji cukup efektif untuk memotivasi anak, karena anak juga hidup dalam dunia pengharapan, mimpi dan keinginan.
Janji kepada anak harus ditepati atau justru akan merusak semuanya. Anak sangat berharap dan memegang janji erat-erat. Anak akan terluka dan kepahitan jika kita ingkar janji. Lebih baik engkau tidak berjanji daripada memotivasi anak dengan janji dan engkau melupakannya. Jangan juga takut berjanji, jika kita ingin sekaligus mengajar anak menepati janji, maka inilah caranya, buatlah janji dan tepati, sikap akan menurun.
E. Marah, Mendidik dengan Kata-kata Positif
Waktu kita menghukum, menghukum dalam rangka mendidik, atau mendisiplin anak, kita harus menggunakan kata-kata positif. Jika menghukumnya dengan menggunakan kata-kata atau marah kepada anak, maka harus tetap dalam kerangka berfikir dan berkata positif. Tegorlah ke
salahannya tetapi jangan serang pribadinya.
Jika menegor anak
yang bangun kesiangan, misalnya, katakan;
“ Ayo bangun sudah siang” katakan dengan nada tinggi atau berteriak tidak apa-apa, sesuai kebutuhannya, tetapi jangan katakan;
“ Ayo bangun, dasar pemalas” Perkataan semacam ini sudah menyerang pribadi si anak dan kita memberi label si anak dengan sebutan ‘pemalas’.
Kalau anak nakal, malas, kurang ajar, maka katakan; “
Anak papa, tidak boleh nakal!”, “
Anak mama tidak boleh malas!” “
Anak Tuhan tidak boleh kurang ajar!” atau “
Anak soleh tidak boleh bohong!” “
Anak Tuhan tidak boleh begitu,
Tuhan sayang, tetapi dia sedih kalau kamu begitu”, jadi label si anak tetap anak papa, anak mama, anak Tuhan, anak baik. Ini penting untuk
membangun citra diri
yang benar dalam hidup anak, dan citra diri ini sangat penting.
*3)
Jangan katakan;
“Anak nakal!” “Anak Goblok tak tahu peraturan!” “Anak bandel, dasar anak kurang ajar, anak monyet!” atau sumpah serapah lainnya, ini bukan mendidik, tetapi mengutuk dan anak akan kepahitan dan benci kepada si-pendidik. Maksud kita marah adalah menghukum supaya anak kembali ke jalan
yang benar, supaya anak menyadari ke
salahannya, tetapi kalau cara kita menghukum
salah, maka kita tidak akan mencapai tujuan kita.
Mengapa kita harus berkata-kata positif? Karena orang tua memiliki otoritas terhadap anak-anaknya.
F. Fokus Didikan Tetap Anak
Jangan menghukum/ marah dengan mengatakan;
“Papa malu kamu berbuat begitu!” “Kamu itu merusak martabat keluarga kita” dan hal-hal serupa. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya fokus kita,
yang kita pertahankan dan kasihi bukanlah si anak, tetapi diri kita sendiri, nama baik kita, nama marga atau reputasi kita sendiri. Bahkan mungkin lebih baik kita berkata begini;
“Papa tidak rugi apa-apa kamu berbuat begitu, tetapi badanmu yang akan rusak, masa depanmu dan dirimu sendiri, reputasimu yang hancur kalau kamu begitu!”

Kalau anak kebetulan dalam posisi hati
yang memang tidak suka dengan orang tuanya, dia justru akan berbuat lagi supaya memang orang tuanya menjadi malu. Saya pernah mengajak seorang muda
yang terlibat narkoba untuk keliling bersama saya selama beberapa minggu ke Sulawesi. Saya ajak dia tidur
satu kamar dengan saya. Setelah beberapa hari, kami
membangun hubungan dan dia mulai terbuka, maka
salah satu ‘
sharing’nya, kenapa dia melakukan dan melakukan lagi, bahkan sengaja memakai obat di gereja? Supaya bapaknya
yang ‘diaken’ di gereja menjadi malu, karena dia memang tidak suka dengan bapaknya,
yang terlalu mencintai nama besarnya, marga, keluarga lebih dari pribadinya.
G. Kuasa Lingkungan Positif KASIH SAYANG
Anak
yang mendapatkan kasih sa
yang, penerimaan apa adanya, kasih tanpa syarat, akan betah di rumah, kuat menghadapi penolakan dan berani berkata tidak kepada lingkungan
yang negatif. Ciptakan lingkungan
yang positif dengan:
- Terima apa adanya
- Jangan membandingkan
- Fokus didikan tetap anak
- Imbang antara rewards & punishment
- Mengampuni dan melupakan
- Memberi kesempatan dan kepercayaan
- Mengontrol secara bijaksana
- Untuk anak ABG jadikan dia teman, tingkatkan komunikasi, kurangi punishment
Anak-anak
yang tinggal dalam keluarga
yang negatif, tidak mendapat penerimaan, kasih sa
yang yang pantas, akan mencari penerimaan di luar rumah, dengan menjadi seperti lingkungannya. Bahkan ada kecenderungan, anak-anak
yang mengalami penolakan di rumah, berani ‘membayar harga’ untuk diterima lingkungannya, dengan mengatakan ‘YA’ kepada lingkungan atau ‘MEMBERI’ terhadap apa
yang mereka minta. Jika lingkungan meminta dia merokok, gaya punk, cepak, bertato, memiliki sepeda motor, menggunakan narkoba, melakukan hubungan sex, gaya bahasa tertentu, apapun juga permintaan lingkungan, anak-anak dengan penolakan di rumah, dengan cepat akan menjadi seperti lingkungannya.
Anda mungkin bukan orang tua
yang mengerti tekonologi, sehingga bisa ‘gaul’ dengan anak-anak, mungkin anda bukan ahli psikologi
yang memahami perkembangan dan kejiwaan dan keunikan setiap anak, tetapi PASTI anda sebenarnya BISA menjadi orang tua
yang MENGASIHI anak dengan sungguh-sungguh, dan menjadi LINGKUNGAN POSITIF bagi anak anda.
Tidak ada orang tua
yang sempurna, kemauan menjadi orang tua
yang baik, itulah orang tua
yang baik. Berusahalah untuk menjadi orang tua
yang baik, dengan mengasihi mereka, mendengarkan mereka, berusaha se-adil mungkin dalam mengambil keputusan dan memberikan pendisiplinan. Tingkatkan pengetahuan dengan membaca buku-2 tentang pendidikan anak.
Keterangan :
Artikel diatas adalah sebagian dari makalah seminar "Menciptakan Lingkunga yang Positif"
Tema seminar yang lainya adalah :
1. Mendidik Anak dengan Hati
2. Media dan pengaruhnya pada anak
3. Mendidik anak Kebutuhan Khusus
INFORMASI SEMINAR : 021 93009175